Laporan Pengawasan Operasi Industri Ekstraktif

Laman ini berisi informasi mengenai pemantauan dan pengawasan industri ekstraktif berupa laporan masyarakat, fitur untuk menyampaikan laporan serta artikel terkait                  

Penyedotan Pasir Hitam Gunung Anak Krakatau Berkedok Mitigasi Bencana

Penyedotan Pasir Hitam Gunung Anak Krakatau Berkedok Mitigasi Bencana

Sumber ilustrasi: infolampung.com 

Pasir hitam yang merupakan muntahan Gunung Anak Krakatau (GAK) memiliki kualitas terbaik. Hal itu membuat perusahaan melakukan eksplorasi berupa penyedotan pasir hitam dimulai oleh PT. AUP yang mendapat izin penelitian dan mitigasi di wilayah GAK dengan izin surat No. 503/01/MITIGASI/III.7/2009 kemudian PT. EVAL yang telah membuat MoU dengan Pemda Lampung Selatan tentang pelaksanaan Mitigasi Regional bencana Geologi di wilayah Lampung Selatan dengan No. 07/PK/HK/2014 dan No. 007/IV-DIR/EVAL/2014 serta telah disahkannya Perda No. 11/ 2014 tentang Mitigasi Regional Bencana Geologi di wilayah Lampung Selatan.

Pengerukan pasir hitam GAK berkedok mitigasi di Lampung Selatan ini telah dilakukan sejak tahun 2009 hingga sekarang. Pengerukan itu diduga dilegalkan oleh Pemda Lampung Selatan dengan adanya perjanjian kerja sama. Mitigasi dilakukan dengan cara mengeruk pasirnya dengan cara disedot menggunakan kapal tongkang dengan mengurangi material padatnya. Dampak dari penyedotan pasir isa menenggelamkan pulau di sekitarnya. Terumbu karang juga rusak serta rusaknya ekosistem laut di sekitarnya.

Karena itu, WALHI Lampung mendesak Perda No. 11/ 2014 tentang Mitigasi Regional Bencana Geologi di wilayah Lampung Selatan untuk dicabut karena bertentangan dengan ketentuan UU No. 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam ayati dan Ekosistem dan mendorong proses penegakan hokum yang dilakukan oleh Polisi Air dan Udara (Polairud) Lampung.

Sumber: Sengkarut Tambang Mendulang Malang, Koalisi Anti-Mafia Tambang Bengkulu, Lampung & Banten, 2015